Di kota metropolitan, di hunian elit ala kasti kerajaan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang sangat minim personil. Beranggotakan hanya dua orang anak laki-laki kecil dan ayahnya yang super sibuk. Mereka tinggal di sebuah rumah yang elegan lagi bernilai arsitektur tinggi. Si anak selalu menyibukkan ayahnya yang sudah sibuk di kantor dengan berbagai macam permintaan dan keinginan. Kata-kata “Yah, aku mau ini ,…”, “Yah, aku mau itu,…” mulai membuat si ayah bosan dan pusing, belum lagi cucuan yang harus ia kerjakan sendiri. Membersihkan rumah, memcuci mobil BMWnya, menata kebunnya dan lain-lain. Ia belum terbiasa begitu repot, tak seperti saat masih tinggal dengan istrinyayang sangat senang lagi giat mengerjakan pekerjaan rumah.
Akhirnya iapun memutuskan untuk mencari seseorang yang dapat multifungsi meringankan pekerjaannya. Singkat cerita, ia mendapatkan seorang pemuda yang mau mengerjakan semuanya. Pemuda ini terpancing dengan iming-iming uang 2 juta rupiah tiap jam. Dengan perjanjian ia harus mengerjakan lima hal, antara lain membersihkan rumah dengan segala perabotan mewahnya, memperhaikan makan kedua anaknya, memcuci BMW yang berderet dalam garasinya, menata kebun serta memcuci pakainan dan kolam renang. “Lima ini saja, kamu boleh ambil upahmu tiap petang sebelum pulang” tegas ayah dua anak tadi. Keduanya sepakat tanpa ada tawar menawar, si pemuda harus memulai pekerjaanya besok pagi.
Keesokan harinya, si pemuda datang ke rumah gedong itu dengan semangat45 sambil membayangkan berpa gaji yang akan ia peroleh hari ini. “Kalo 2 juta per jam,.. kalo sampe sore berapa ya,…?”. Ia bertanya pada dirinya sendiri sambiol tak kuasa menahan senyumnya yang lebar sejak kemarinn. Pagi itu si ayah yang hendak berangkat kerja tak sempat berkata-kata padanya. Ia hanya senyum padanya dan anak-anaknya sejenak sebelum lalu mennghilang dengan BMW birunyanan licin lagi menyilaukan. Tanpa malas ia mulai memulai kerjanya, mulai dari membersihkan rumah majikan barunya, mencuci pakaian, menata kebun, mencuci pakaiandan kolam, serta memberikakan kedua bocah kecill yang ada di rumah itu. Ia tak perlu repot, ternyata dikulas yang seperti lemari pakaian diirumahnya ada kegudang makanan yang biasa dimakan kedua bocah itu.
“Hha,.. beres sudah lima tugas, ini waktu untu menag! Majikan pulang, kita pulang banyak uang!, Hari ini bisa makan kenyang! Ha,… ha,.. ha,.” ucapnya sambil menyender di jemdela merbau dengan pandangan membentagnke pekarangan belakang majikannya. Sungguh indah pekarangan belakang rumah majikkannya, kolam renang yang di pagari kebun yang menghijaukan mata. Disana juga terlihat kedua anak majikkannya sedang bermain kejar-kejaran. Ia tersenyum dan berkata dalam hatinya, “mungkin ini gambaran surge, Hha,. Ha,.. kejayaanku memang akan segera datang.” Tiba-tiba, bocah kecil itu terpeleset kekolam renang itu. Kakaknya pun terdiam sejenak lalu berteriak minta tolong ”Kak, adik jatuh! Tolong dia kak..” dengan tenangnya pemuda tadi menjawab ”Dah, kan Cuma air, lagian kan gak dalem,..”. “Memang gak dalem! Tapi adik saya kan pendek.. Buruan sini kak, tolong adik saya!!!” tegas anak majikannya itu. “Lha, itu kan bukan tugas aku,.. wong aku disuruh bapakmu Cuma untuk lima kerjaan yang dah beres ku kerjain kokk,, Jadi, itu bukan tugasku! Weee ’meledek’.”, ”Dia bisa berenang, gak?” lanjutnnya. “Adik belum bisa berenang, kak!” jawab bocah yang semakin bertambah panic itu. “Ooo,.. kalo gitu tenang aja, bentar lagi adek mu juga bakalan muncul ko,.. tunggu aja!” jawab pemuda tadi menghibur bocah itu. “Beneran kak!!?” Tanya bocah lugu itu dengan heran. Tak lama kemudian jasad adiknya muncul ke permukaan dan menepi, namun dengan ekspresi yang berbeda ‘tan.. pa.. nya.. wa.. ’.
Sontak, kakaknya pun menjerit tak tak ketulungan. Ia bawa jenazah adiknya kerumah dengan tangisan yang berderai derai. Ia pun tak hentinya menangis hingga petang hari. Pemuda itupun berkata padanya “Ikhlaskan lah,.. sesungguhnya segala sesuatu yang dari Allah akan kembali padaNya..”. Mendengan kata-kata itu, pekik tangis si bocah pun semakin menjadi-jadi.
Singkat cerita ayahnya pun tiba. Hati pemuda ini pun gembira, merasa ia akan segera menerima upahnya yang 2 juta per jamnya. Dengan menghela nafas letihnya, si ayah pun masuk. Ia langsung disambut pemuda yang sudah tidak sabar menerima upahnya. Ekspresi si ayah kontan berubah mendengar suara tangis yang tidak wajar dari putra pertamanya yang kemudian mendekatinya. Si pemuda itu tanpa ragu-ragu dan malu-malu mulai angkat bicara, “”Pak, kelimma tugas dari bapak sudah beres! Tanpa terkecuali, bapak bisa lihat sendiri hasilnya..”. Si ayah tak memperhatikan ucapan pemuda itu, ia mencoba mengerti tangisan anak sulungnya dan akhirnya si sulung pun angkat bicara, “Pa,.. adik pa,..”.
“Adik kenapa!!? Tanya ayah yang khawatir dengan anaknya”. “Adik masuk kolam”. Disela-sela pembicaraan serius ayah dan anak tadi si pemuda tadi juga bicara menuntut upahnya yang dijajnnikkan akan diberikan setiap petang setelah ia bekerja. “Kenapa tidak minta tolong pada kakak ini?” Tanya ayah. “kakak itu bilang menolong adik bukan tugasnya. Katanya ayah tidak menyuruhnya melakukannya! ”. Si ayah pun naik darah mendengarnya dan bertannya “Dimana adikmu sekarang!!?”.
Bocah itu pun menjawab, “Adik di ruang tengah, namunn sudah tidak bernyawa,..”. Si ayahpun terdiam. Disela kesunyian duka itu, pemuda itu dengan sigapnya mengambil kesempatan untuk bicara, “Pak, saya sudah membersihkkan kebun,..”. Klepakk! Tangan si ayah mendarat di pipi kanannya. Dengan sedikit nyeri pemuda ini pun melannjutkan pembicaraanya,”Tunggu, pak! Bukan Cuma satu yang saya kerjakann. Saya juga sudah memmcucu pakaian” Klepakk!! Pendaratan kedua berjalan dengan cepatnya di sisi yang berbeda dari wajah si pemuda. Hal ini terjadi sampai lima kali, karena pemuda itu menyebutkan tugasnya yang sudah ia laksanakan. “KENAPA KANNU TIDAK MENOLONG ANAK SAYA!!!” Pekik si ayah yang mekanya sudah memerah. Degan heran dan agak jengkel pemuda itu menjawab, “Lha, kann bapak Cuma kasih saya lima tugas? Menolong anak bapak kan tidak termasuk dalam tugas saya!?” Si ayah pun makin naik darah, BRUGG,. ia meninju perut pemuda itu dan menyeretnya hingga pintu rumahnya. “Pergi kamu!!!” pekik manikannya. Disela suasana yang tegang itu si pemuda rupanya tidak lupa dengan haknya, dan ia pun menanyakannya, “Bagaimana denga upah 2 juta perjam saya, pak?”. Glabrruk! Kini sepatu yang di topang dengan kaki si majikan yang mendarat di wajahnnya.
Akhirnya si pemuda itupun pulang babak belur dengan tangan kosong. Padahal ia tadi telah bekerja denga sebaik-baiknya, sekuat tenaga dangan hati mengharapkan imbalan yang dijanjikan.
Senin, 03 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)